Bencana Alam Renggut Nyawa Dua Siswa SMAN 2 Sibolga

Kepala Sekolah SMAN 2 Sibolga Samsia Silitonga, S. Pd. MM saat menjelaskan ke awak media peristiwa yang merenggut nyawa siswanya diruang kerjanya, Senin (12/1/2026)
Kepala Sekolah SMAN 2 Sibolga Samsia Silitonga, S. Pd. MM saat menjelaskan ke awak media peristiwa yang merenggut nyawa siswanya diruang kerjanya, Senin (12/1/2026).*Foto/IMC/Tetty#

IniMedan.com-Sibolga   | Peristiwa bencana alam tanah longsor dan banjir bandang yang terjadi di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kota Sibolga tanggal 25 November 2025 yang lalu mengisahkan duka yang mendalam bagi keluarga besar SMAN 2 Sibolga.

Dimana 2 siswa SMAN 2 Sibolga meninggal dunia akibat tertimbun tanah longsor. Hal ini disampaikan Kepala Sekolah SMAN 2 Sibolga Samsia Silitonga, S. Pd. MM diruang kerjanya, Senin (12/1/2026).

Kepsek Samsia Silitonga menjelaskan bencana alam yang terjadi bulan November tahun lalu telah merenggut nyawa siswa mereka. Selain itu 199 siswa dan 38 tenaga  pengajar (Guru) mengalami dampak bencana tersebut.

“Kami sangat berduka telah kehilangan siswa kami yang tertimbun tanah longsor. Ada dua siswa kami yang menjadi korban tertimbun tanah longsor  yaitu Iren Zai kelas XI berdomisili di Kelurahan Kalangan Tapteng, meninggal tertimbun bersama orangtuanya. Kemudian Rahmani Marbun Kelas XII juga tertimbun tanah longsor bersama ibu dan adiknya di jalan Murai Kota Sibolga,” jelas kepsek.

Selanjutnya Samsia Silitonga mengatakan bahwa terdapat 12 kelas, atap dan  plafon atau asbes rusak, kupak-kapik diakibatkan hujan deras yang menimpa sekolah SMAN 2.

Samsia juga menuturkan bahwa  para guru dan siswa-siswi yang tidak terdampak bencana melakukan penggalangan dana secara spontanitas dan sukarela untuk membantu pengadaan pakaian seragam sekolah dimana 20 siswa-siswi yang pada saat bencana terjadi satu pun pakaian tidak bisa terselamatkan .

Lebih lanjut Samsia mengatakan bahwa Kementerian Pendidikan telah menyalurkan santunan kematian sebesar Rp.2 juta perjiwa yang telah diterima masing-masing ahli waris.

Dan saat ini kami fokus untuk pemulihan trauma psikologis pascabencana agar siswa-siswa kami semangat, cepat bangkit dari rasa trauma akibat bencana alam kemaren.*Tetty#

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *