
Inimedan.com-Medan | Didorong dari rasa keprihatinan pestasi yang diraih atlet pelajar Sumatera Utara, dalam kancah Pekan Olahraga Pelajar Nasional XVII tahun 2025 di Jakarta, yang berakhir 10 Nopember 2025. Memunculkan ide melakukan “urung rembuk” membicarakan anjloknya prestasi tersebut.
Merosotnya prestasi dari atlet pelajar Sumatera Utara di kanah POPNAS XVII tahun 2025 itu, salah siapa dan apa penyebabnya. Apakah ini salah dari pihak Dispora Sumatera Utara sebagai pihak pemerintah yang menangani bidang olahraga, atau juga dari Pengurus olahraga Provinsi selaku pembina olahraga yang kurang berfungsi.
Urung rembukpun dilaksanakan Senin (10/11/2025) secara sederhana dan hadir sejumlah wartawan olahraga, di Aksara Kuphi, duduk bersama berdiskusi membahas guna mencari solusi penyebab menurunya prestasi Atlet Popnas 2025, sehingga keluar dari 10 besar yang diraih sebelumnya menjadi 13 besar saat ini.
Dalam diskusi yang dihadiri dua mantan Ketua SIWO PWI Sumut, SR Hamonangan Panggabean dan Ariadi, mantan pengurus SIWO PWI Sumut, Syawal Rifai Malau, Ayub Kesuma Siregar, Husni Lubis, Ispan Wahyudi serta pengurus SIWO PWI Sumut priode sekarang, Pujianto mengharapkan, Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) dan Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) melakukan evaluasi terhadap kegagalan atlet pelajar pada Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XVII di Jakarta yang berakhir pada 10 Nopember kemarin.
Capaian yang diraih para atlet Popnas Sumut tahun 2025, tak sesuai harapan Gubsu Bobby Nasution. Pasalnya, Popnas 2025 Sumut berada di peringkat 13 nasional dengan raihan 4 emas, 13 perak, dan 20 perunggu. Pada Popnas tahun 2019 Sumut berada diurutan 11 dan peringkat 10 nasional di Palembang Sumatera Selatan 2023 dengan 8 emas, 11 perak dan 10 perunggu
“Hasil yang dicapai seluruh cabang olahraga PPLP akan menjadi bahan evaluasi, sehingga prestasinya meningkat pada pelaksanaan kegiatan selanjutnya, karena itu diharapkan harus jadi pelajaran berharga untuk pembenahan ke depan menuju prestasi yang lebih baik”, kata pengamat olahraga Syawal Rifai dalam diskusi olahraga tersebut.
Namun lacur terjadi, prestasi atlet pelajar jauh dari memuaskan. “Evaluasi pada atlet dan manajemen internal sangat penting untuk mengetahui apakah orang-orang yang duduk di teknis-teknis persiapan atlet, sudah bekerja sesuai dengan aturan atau belum.
Tak hanya itu, Kadis juga diminta turun langsung ke setiap cabang olahraga PPLP, dan akan memanggil semua penanggungjawab cabang olahraga Popnas, untuk mengetahui pasti apa yang menjadi hambatan sehingga tidak mampu berbuat banyak di pentas nasional.”, pinta pria yang juga duduk sebagai pengurus di beberapa cabor.
SR Hamonsngan Panggabean mengatakan, dengan kegagalan Sumut bertahan diposisi 10 besar, sudah seharusnya kita mengetahui sejauh mana pola perekrutan atlet yang dilakukan Dinas Pemuda Olahraga Provinsi Sumatera Utara.
“Sebab dua tahun belakangan ini kalau tak salah, perekrutan baik pelatih dan atlet tidak pernah lagi melibatkan media. Jadi bisa saja seperti membeli kucing dalam karung,” kata Monang yang diaminkan Ariadi.
Anehnya lagi tambah Monang, kalaulah efesiensi kenapa beberapa waktu lalu, ada yang menawarkan masih bisa diberitakan di media soal perekrutan atlet yang akan dibina di PPLP Sumut.
“Ada apa, apa karena sudah mau tutup tahun mengingat sisa anggaran belanja masih ada agar tak dipulangkan ke negara?,” ucap Monang lagi.
Untuk itulah, Ayub Kesuma lebih menginginkan diadakan pertemuan dengan pihak Disporasu dan pengprov olahraga agar para wartawan bisa mengetahui sejauh mana benar atau tidaknya tatacara perekrutan pelatih dan atlet.
Hasil inipun menjadi cerminan sia-sia dalam penggunaan anggaran dari APBN dan APBD dalam menjalankan program pembinaan atlet mengingat perjalanan menuju Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Utara (Porprovsu) waktu terus berjalan.
Padahal persiapan diketahui para pemerhati olahraga daerah ini sudah jauh-jauh hari dilakukan di Pusat Pembinaan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Sumut dan di Pusat Pelatihan dan Latihan Daerah (PPLD).
Rasa prihatin ini harus disikapi serius setiap pengprov olahraga yang mana menyerahkan para atlet untuk dibina di PPLP dan PPLD Sumut harus benar-benar atlet dan bukan karbitan.
Sedangkan Husni Lubis msngatakan, dari pembahasan tersebut, ia lebih memilih dilakukan pemantauan setelah itu dilakukan evaluasi kinerja lalu harus dilibatkan wartawan olahraga sebagai pemantau atlet dari setiap cabor yang masuk dalam program pembinaan baik jangkat pendek dan panjang.
“Tak ada yang bisa asal kita bangun lesepakatan bersama untuk sebuah kemajuan olahraga daerah ini kedepan,” kata Husni mengakhiri.
Seperti diketahui Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution ketika pelepasan, berharap kontingen daerah ini bisa meraih prestasi terbaik di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XVII 2025. Bobby Nasution juga berharap capaian prestasi tahun ini lebih baik dari Popnas 2019 dan 2023.
Bobby Nasution meminta para atlet Sumut harus memiliki mental juara dan pejuang sekaligus bisa mengerahkan semua kekuatan saat bertanding.
Dia juga memastikan, pemerintah akan tetap komitmen memberikan penghargaan kepada mereka baik atlet dan pelatih yang sukses persembahkan medali.
Namun lacur terjadi, prestasi atlet pelajar jauh dari memuaskan. “Evaluasi pada atlet dan manajemen internal sangat penting untuk mengetahui apakah orang-orang yang duduk di teknis-teknis persiapan atlet, sudah bekerja sesuai dengan aturan atau belum.
Pada Popnas 2025 berlangsung di Jakarta mulai 1 hingga 10 November, Sumut total berkekuatan 249 orang, terdiri dari 177 atlet, 36 pelatih, 16 official, 14 pendamping, serta 6 tim kesehatan.
Sumut mengikuti 17 cabang olahraga, yakni sepak bola, renang, atletik, angkat besi, wushu, panahan. Kemudian senam, tinju, Judo, taekwondo, karate, pencak silat, panjat tebing, gulat, bola basket, tenis lapangan, balap sepeda.*di/r#

