Revitalisasi Sekolah Terdampak Dikebut, Peningkatan Kualitas Pembelajaran Jadi Prioritas

Proses renovasi sekolah yang terdampak bencana sedang berlangsung, dengan semangat pemulihan yang terus digalakkan oleh Satgas PRR. Dokumentasi Satgas PRR/Kemendikdasmen
Proses renovasi sekolah yang terdampak bencana sedang berlangsung, dengan semangat pemulihan yang terus digalakkan oleh Satgas PRR. Dokumentasi Satgas PRR/Kemendikdasmen. *Foto/IMC/Ist#

Inimedan.com-Medan   | Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus mempercepat revitalisasi fasilitas pendidikan yang terdampak bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Upaya ini dilakukan untuk memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan dengan dukungan pemulihan kualitas pendidikan bagi para penyintas.

Berdasarkan data Satgas PRR, total fasilitas pendidikan terdampak di
tiga provinsi mencapai 4.922 satuan pendidikan. Rinciannya, sebanyak
3.120 sekolah berada di Provinsi Aceh, 1.149 sekolah di Sumatera Utara,
dan 653 sekolah di Sumatera Barat. Seluruh sekolah tersebut telah
kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan tingkat keterlaksanaan
mencapai 100 persen, meskipun sebagian masih menggunakan fasilitas
darurat.

Di Aceh, sebanyak 3.046 sekolah telah kembali digunakan sebagai lokasi
belajar utama, sementara 34 sekolah menggunakan kelas darurat, 36
sekolah masih belajar di tenda, dan 4 sekolah menumpang di fasilitas
lain. Di Sumatera Utara, 1.133 sekolah telah kembali digunakan, dengan 7
sekolah masih menggunakan kelas darurat dan 11 sekolah di tenda. Adapun
di Sumatera Barat, 640 sekolah telah kembali beroperasi di lokasi asal,
sementara sisanya memanfaatkan kelas darurat, tenda, dan fasilitas
pinjaman.

Satgas PRR mencatat masih terdapat 50 sekolah yang melaksanakan
pembelajaran di tenda, 49 sekolah di kelas darurat, dan 6 sekolah
menumpang. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun proses pembelajaran
telah berjalan, kualitas sarana dan prasarana masih perlu ditingkatkan
secara bertahap.

Untuk mempercepat pemulihan tersebut, pemerintah telah mengakselerasi
program revitalisasi satuan pendidikan melalui skema Perjanjian Kerja
Sama (PKS). Hingga 31 Maret 2026, tercatat sebanyak 2.873 sekolah telah
melaksanakan PKS revitalisasi dengan total anggaran mencapai Rp2,81
triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.372 sekolah telah menerima
penyaluran dana tahap pertama dengan nilai mencapai Rp1,39 triliun.

Di Provinsi Aceh, program revitalisasi menjangkau 1.915 sekolah dengan
total anggaran Rp1,94 triliun. Sebanyak 1.576 sekolah telah menerima
penyaluran tahap pertama senilai Rp958,27 miliar. Sementara itu, di
Sumatera Utara terdapat 636 sekolah dengan total anggaran Rp588,88
miliar, di mana 495 sekolah telah menerima dana tahap pertama sebesar
Rp271,24 miliar. Adapun di Sumatera Barat, revitalisasi dilakukan pada
322 sekolah dengan total anggaran Rp278,52 miliar, dengan 301 sekolah
telah menerima penyaluran tahap pertama sebesar Rp167,53 miliar.

Pelaksanaan revitalisasi ini dilakukan melalui dua skema, yakni
swakelola oleh sekolah sebanyak 2.606 satuan pendidikan, serta kerja
sama dengan TNI AD untuk 267 sekolah yang mengalami kerusakan berat atau membutuhkan relokasi.

Secara lebih rinci, di Aceh, revitalisasi mencakup berbagai jenjang
pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA/SMK. Sebanyak 782 PAUD, 773 SD,
133 SMP, 124 SMA, dan 89 SMK telah masuk dalam program revitalisasi.
Progres penyaluran dana tahap pertama juga terus berjalan, disertai
keterlibatan TNI AD dalam 190 kegiatan pembangunan.

Di Sumatera Utara, revitalisasi mencakup 86 PAUD, 370 SD, 110 SMP, 38
SMA, dan 29 SMK. Sementara di Sumatera Barat, program ini menjangkau 84
PAUD, 169 SD, 35 SMP, 26 SMA, dan 4 SMK. Pemerintah memastikan seluruh
jenjang pendidikan terdampak mendapat perhatian, sehingga proses
pemulihan berjalan merata.

Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian
mengatakan percepatan revitalisasi dilakukan dengan skala prioritas,
terutama untuk sekolah dengan tingkat kerusakan berat.

“Untuk Aceh, sudah lebih dari seribu sekolah yang melakukan perjanjian
kerja sama untuk perbaikan. Kita prioritaskan yang rusak berat terlebih
dahulu. Secara operasional, pendidikan sudah berjalan 100 persen, tapi
memang belum ideal. Masih ada yang belajar di tenda atau fasilitas yang
belum memadai,” ujarnya.

Tito menambahkan, Satgas PRR berkomitmen memastikan seluruh fasilitas
pendidikan dapat segera kembali dalam kondisi layak, sehingga kualitas
pembelajaran tidak terganggu dalam jangka panjang. *di/r#

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *