Inimedan.com-Taput| Dari beberapa bondar ( tali air/ irigasi) yang ada dalam mengairi persawahan di Tarutung sekitarnya, dua di antaranya tercatat Bondar Panaharan di kawasan Parbaju Julu Pea,dan Bondar Panganan Lombu di Jalan TD Pardede yang sudah cukup lama tak lagi mengalirkan air sesuai fungsinya.
Keterangan diperoleh wartawan media ini, kedua tali air tersebut tercatat sebagai saluran irigasi tertua di Tarutung. Bondar Panaharan yang terletak di belakang Kantor PUPR Tapanuli Utara misalnya,disebut sudah ada sejak zaman penjajahan. Tali air yang sumber airnya dari Aek Sigeaon dialirkan dari pintu air Lapo Jagumbit ke persawahan di sekitar Desa Parbaju Julu dan Partali Julu,diperkirakan seluas 200 hektar kurang lebih.
Bondar Panaharan direhab tahun 2010 dengan membuat tembok penahan kiri kanan sepanjang lebih kurang 1 kilometer arah Aek Ristop. Biaya pembangunannya Rp 900 juta lebih. Awalnya aliran air dari sungai Sigeaon lancar-lancar saja. Tetapi sejak tahun 2012-2013, aliran air mulai mandeg,dan akhirnya mati total hingga kini.
Masyarakat petani di Parbaju Julu dan Partali Toruan mengeluh. Khususnya petani tambak ikan di dua desa tersebut,yang selama puluhan tahun hidupnya bergantung pada pertambakan ikan mas dan mujahir. Usaha mereka terpaksa gulung tikar akibat putusnya pasokan air melalui Bondar Panaharan.
EKSPLOITASI PASIR
Macetnya aliran air di Bondar Panaharan bukan tanpa sebab. Dari pengamatan jurnalis media ini,salah satu yang terpenting adalah penurunan signifikan permukaan air Aek Sigeaon dalam dua dekade terakhir. Terjadinya penurunan permukaan air menyebabkan putusnya pasokan air melalui pintu air. Hal itu dibenarkan Anggiat Rajagukguk semasa menjabat Kadis PUK Taput dalam suatu wawancara. ” Permukaan air sungai memang sudah turun drastis,makanya air tak bisa lagi menjangkau pintu air untuk dialirkan ke persawahan,” ujar Anggiat.
Pemkab Taput telah melakukan upaya mencoba menormalisir agar air bisa didongkrak menjangkau pintu tali air, dengan membangun bendungan di beberapa titik. Namun upaya tersebut sejauh ini sia-sia. Bondar Panaharan tetap tak bisa difungsikan. Warga di sekitar desa sekitar mulai pesimis tali air bisa berfungsi seperti biasa. Sementara dasar sungai kelihatan makin dalam,otomatis permukaan sungai juga makin anjlok.
Turunnya permukaan dan makin anjloknya dasar sungai,ditengarai akibat eksploitasi pasir yang berlebihan dalam kurun waktu cukup lama. Pengerukan pasir secara manual selama puluhan tahun tidak berakibat buruk terhadap kondisi sungai seperti saat ini. Kondisi sungai makin terpuruk setelah pengerukan pasir menggunakan mesin penyedot, yang menguntungkan segelintir pengusaha.
Pengerukan pasir dari Aek Sigeaon memang tidak diijinkan,dan pernah dilakukan penertiban oleh Satpol PP. Tetapi entah kenapa masih juga ada eksploitasi pasir secara masif di beberapa titik Aek Sigeaon dan Aek Situmandi, ujar seorang warga Tarutung.*le#


